Sejarah cetak mencetak . . .

Apa PIPMI
Berita Terbaru

Indeks Anggota
Formulir Registrasi 
Link Khusus

Artikel

resensi

tips



untuk sementara situs ini dikelola oleh Litbang Majalah Balairung

Majalah BALAIRUNG 2000
webmaster

[11/18/00]

 

Menggagas Media Kampus Online
Oleh Didik Supriyanto, Sekretaris Jenderal AJI Indonesia
(Tulisan ini disampaikan pada Seminar Cyber Media: Menuju Media Campus Online, 24 Februari 2000 di Kampus UGM Bulaksumur yang diselenggarakan oleh AJI Jakarta dan Majalah Mahasiswa UGM Balarung)


Lima bulan setelah Soeharto turun dari kekuasaan, tepatnya pada pertengahan Oktober 1998, Majalah Mahasiswa UGM Balairung mengadakan seminar tentang, Reorientasi Pers Mahasiswa Pasca Soeharto. Seminar yang dihadiri oleh para aktivis pers mahasiswa se-Jawa ini mencoba menjawab pertanyaan: apa yang harus dilakukan oleh pers mahasiswa, setelah Indonesia memasuki zaman baru yang lebih terbuka, lebih bebas, dan lebih demokratis?

Pertanyaan tersebut memang harus dijawab oleh aktivis pers mahasiswa, mengingat selama bertahun-tahun pers mahasiswa justru mengambil peran penting di tengah-tengah situasi yang tertutup dan mengekang. Mereka berani mengungkap fakta-fakta pentng, yang didiamkan oleh pers umum, yang, takut kelangsungan hidupnya terancam. Dalam hal menyampaikan opini, pers mahasiswa pun lebih artikulatif. Inilah kelebihan pers mahasiswa.

Nah, pada era terbuka dan bebas, seperti sekarang ini, tentu saja keberanian saja tidak cukup. Soalnya pers umum, apalagi mereka yang baru terbit, jauh lebih berani dan bahkan jauh lebih nekat. Tidak hanya dalam beropini, tetapi juga dalam mengungkap fakta. Tidak bisa dibayangkan sebelumnya, bahwa Soeharto kemudian disebut-sebut sebagai otak peristiwa 30 September 1965. Atau bahkan ia disebut sebagai kader komunis sejati.

Terhadap problem aktual yang dihadapi oleh pers mahasiswa saat itu, sebagai jurnalis dan sebagai orang yang pernah berkecimpung di pers mahasiswa, pada saat seminar Balairung itu, saya menawarkan solusi pendek: pers mahasiswa sebaiknya menjadi comunity paper. Artinya, ia harus berupaya memenuhi kebutuhan informasi komunitasnya, yang tidak mungkin bisa dipenuhi oleh pers umum. Ia harus peka dan peduli terhadap masalah-masalah yang terjadi di tempat dia berasal.

Dengan saran menjadi comunity paper, bukan berarti saya bermaksud mengabaikan kepedulian pers mahasiswa terhadap masalah-masalah 'besar', masalah-masalah sosial politik nasional. 'Pers mahasiswa harus tetap memegang komitmen ini. Hanya sudut pandang dan cara kerjanya saja yang perlu diubah.

Maksud saya, para aktivis pers mahasiswa tidak perlu bersusah payah meliput, apalagi ikut-ikutan mengungkap fakta berskala nasional. Sebab kalau itu yang dilakukan, aktivis pers mahasiswa pasti akan kalah bersaing dengan media umum yang memiliki modal kuat dan ditunjang tenaga yang profesional. Pers mahasiswa cukup menyampaikan opini dengan sudut pandang lokal artinya berdasar pemahaman dan cara pikir komunitasnya terhadap masalah-masalah nasional yang sedang, muncul. Dengan demikian, meski membicarakan problem nasional, pers mahasiswa bisa benar-benar membumi, tumbuh dan berkembang dari komunitasnya.

Setelah tiga tahun memasuki zaman baru, saya tidak tahu persis apakah para aktivis pers mahasiswa, sekarang ini sudah berhasil membuat rumusan perjuangan barunya, atau belum. Yang pasti, setelah dihadapkan pada problem keterbukaan dan kebebasan, pers rnahasiswa kini juga dituntut untuk menyikapi perkembangan teknologi informasi. Perkembangan internet yang pesat, telah menciptakan paradigrna baru dunia media massa. Sebagai bagian dari komunitas media massa, pers mahasiswa pasti terkena imbasnya.

Kini, ada belasan majalah mahasiswa (berbahasa Indonesia) setiap kali terbit selalu dionlinekan. Fakta ini menunjukkan, bahwa para aktivis pers mahasiswa sangat cepat mengantisipasi perkembangan teknologi internet. Hanya saja, kecepatan dan kesigapan belumlah cukup. Yang tak kalah panting adalah bagaimana secara tepat memanfaatkan perkembangan internet. Tanpa ketepatan, maka penggunaan teknologi internet akan sia-sia. Paling banter hal itu sekadar menjadi gaya hidup saja.

Internet sebagai sarana media informasi, memiliki dua kelebihan, yaitu kecepatan dan daya jangkau. Dengan hanya membuat situs web yang diisi oleh materi edisi cetak maka aktivis pers mahasiswa hanya memanfaatkan daya jangkaunya saja. Itu pun kalau alamat situs diketahui oleh banyak orang. Sadang faktor kecepatan, sama sekali bdak disentuh. Padahal kalau faktor kecepatan ini benar-benar dimanfaatkan oleh mahasiswa, maka efek dari produk pemberitaan mahasiswa akan terasa benar.

Bisa dibayangkan, apa yang akan terjadi apabila mahasiswa (Indonesia) di seluruh dunia bisa mengikuti peristiwa tertembaknya seorang demontsran di sebuah kampus, dari situs web yang terus-menerus di-update. Hal ini sebetulnya bukan baru sama sekali di lingkungan aktivis mahasiswa, sebab saat menggerakkan demo untuk menurunkan Soeharto, mereka sudah memanfaatkan e-mail sebagai sarana komunikasi dan tukar informasi yang cepat. Hanya saja sifatnya yang belum massal, maka efeknya pun masih terbatas dan tak serentak.

Lewat internet manusia memang tengah 'memperkecil' dunia. Tentu aktivis pers mahasiswa tidak ingin ketinggalan dalam proses tersebut. Paling tidak, mereka, dengan internet, bisa 'menyatukan' dunia mahasiswa dan kampus yang bertebaran di berbagai kota. Bukankah hal ini merupakan cita-cita setiap aktivis (pers) mahasiswa? Dalam proses inilah para aktivis pers mahasiswa bisa menjalankan tugasnya secara maksimal, tanpa dihantui oleh perasaan takut, karena hasil kerjanya tidak bisa diterbitkan karena terbatasnya dana.

Internet memang menjadi salah satu alternatif bagi kalangan aktivis pers mahasiswa, yang terobsesi untuk memproduksi karya-karya jurnalistik. Sebab selama ini sejauh yang saya dengar obsesi itu tidak tersalur lantaran terbatasnya dana produksi, sehingga sering terjadi artikel sudah berkumpul? tetapi tidak bisa dicetak karena tidak ada dana. Internet juga bisa memberi kepuasan tersendiri bagi para aktivis pers mahasiswa, karena karyanya sangat mungkin dibaca oleh banyak orang. Dengan media online, sangat mungkin 'slogan' ditulis sendiri dan dibaca sendiri, akan tidak berlaku lagi.

Masalahnya adalah bagaimana membuat orang tertarik untuk terus-terusan untuk membuka suatu situs web? Jawabnya, pertama situs ini selalu menampilkan informasi baru. ini artinya harus di-update terus-menerus. Yang kedua, tentu saja menyajikan informasi yang menarik. Tentu ini adalah pekerjaan berat bila hanya dilakukan oleh sekelompok aktivis mahasiswa dari satu atau dua kampus. Karena di samping keterbatasan waktu para aktivis pers mahasiswa untuk membuat karya jurnalistik, kenyataannya tidak setiap hari terjadi peristiwa yang menarik di satu kampus.

Untuk mengatasi masalah ini. maka lembaga-lembaga pers mahasiswa yang ada, bisa secara bersama-sama membuat satu situs yang berisi tentang berita kampus. Dengan banyaknya lembaga yang terlibat dalam pengisian situs tersebut, maka updating berita bisa terjaga. Masalahnya apakah lembaga-lembaga pers mahasiswa mau secara bersama-sama membangun satu situs web buat menyalurkan berita-berita kampus yang mereka bikin sendiri? Sejauh pantauan saya, keinginan untuk itu sudah ada, namun tetap jangan berharap bahwa semua lembaga pers mahasiswa akan terlibat dalam proses ini.

Biaya produksi untuk membuat media online boleh dibilang murah meskipun hal ini tidak sepenuhnya benar, bila seluruh anggaran produksi itu ditanggung sendiri mengingat banyaknya pihak yang menawarkan server gratis. Namun, namanya juga barang gratis, tentu saja kualitasnya tidak terjamin. Karena itu, kalau ingin membangun situs web, apalagi untuk news online, maka masalah ini harus diperhatikan: terjamin kontinyuitas dan terhindar dari ancaman hacker.

Pada saat AJI membicarakan tentang rencana AJI untuk membikin situs, Agrakom.com, pemilik situs detik.com, sempat menawarkan ke AJI untuk memanfaatkan sebagian servernya, bila memang butuh. Lebih jauh lagi, Agrakom tak hanya menawarkan server gratis ke AJI, tetapi juga ke aktivis pers mahasiswa, sekali lagi kalau memang mereka butuh. Hanya dengan satu syarat kalau server itu dipakai bersama-sama oleh seluruh lembaga pers mahasiswa. Karena itu para pemilik Agrakom juga minta agar AJI menyampaikan pesan ini kepada aktivis pers mahasiswa, sekaligus bertindak sebagai fasilitatornya.

AJI sendiri, setelah melakukan diskusi kecil dengan beberapa (mantan) aktivis pers mahasiswa, mencoba memberanikan diri untuk menawarkan gagasan membentuk media kampus online ini kepada sejumlah lembaga pers mahasiswa. Sejauh ini tanggapannya positif, bahkan pihak PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia) menyambutnya dengan antusias.

Bagi AJI sendiri kalau gagasan membentuk medlia campus online ini bisa terealisasi, maka AJI akan terhindar oleh gugatan dari para aktivis pers mahasiswa yang kecewa, karena AJI dianggap tidak peduli dengan pers mahasiswa. Sebab dengan adanya kerja kongkrit dan terlembaga, maka sangat mungkin bagi AJI untuk berbuat lebih banyak lagi dalam mendukung pers mahasiswa. Agaknya yang perlu dibicarakan lebih detail adalah bagaimana format kerja sama antara AJI dengan lembaga-lembaga pers mahasiswa untuk membangun media campus online ini.