Sejarah cetak mencetak . . .

Apa PIPMI
Berita Terbaru

Indeks Anggota
Formulir Registrasi 
Link Khusus

Artikel

resensi

tips



untuk sementara situs ini dikelola oleh Litbang Majalah Balairung

Majalah BALAIRUNG 2000
webmaster

[11/15/00]

 

Kompas, Minggu, 3 Mei 1998
Geliat Baru Pers Mahasiswa

PERS mahasiswa, di panggung unjuk rasa yang banyak muncul di berbagai perguruan tinggi Indonesia akhir-akhir ini, samar-samar mingguan Time edisi 30 Maret 1998 menyebutnya sebagai salah satu "pendukung yang tak terduga". Di bawah judul "Behind the Scenes" mingguan itu menulis, kini kampus-kampus di Indonesia sudah saling terhubung melalui Internet, yang praktis tidak mudah dikendalikan oleh penguasa. Dengan mudah dan cepat segala macam informasi bisa disebarkan atau di-share bersama-sama. Sebuah tulisan mengenai kekayaan pejabat yang ditulis oleh sebuah penerbitan mahasiswa di Yogyakarta, misalnya, segera saja muncul pada sebuah majalah Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, 200 km dari bekas ibu kota RI zaman revolusi itu. Jaringan informasi, yang dibentuk oleh pers mahasiswa itulah yang merupakan "pendukung tak terduga" dari aksi-aksi unjuk rasa di berbagai kampus Nusantara.

Tentu, mingguan dengan reputasi seperti Time tersebut juga ikut membuat pers mahasiswa Indonesia "go international". Berkat tulisan pada Time itu, kini majalah Suara Airlangga dari Unair atau harian Bergerak! dari Universitas Indonesia (UI), Depok, telah menjadi sasaran nara sumber bagi pers manca negara. Bila Time mengutip pandangan Iwan Hidayat (22), Pemimpin Redaksi Suara Airlangga, maka harian The Asian Wall Street Journal edisi 28 April 1998 bahkan memaparkan pandangan Achmad Nurhoeri (23), Pemimpin Umum Bergerak!, pada tulisan halaman satu!

"Ini bukan untuk membuat kami sombong. Tapi kami bangga bahwa apa yang ditulis oleh pers mahasiswa ternyata juga bisa menjadi acuan sumber yang dipercaya mengenai situasi dan aksi mahasiswa di kampus-kampus Indonesia," ungkap Achmad Nurhoeri di kantor sederhana harian Bergerak! Depok, Jawa Barat, Kamis (30/4) lalu. ***

BERITA yang terpercaya. Rupanya itu keinginan hampir semua pers mahasiswa saat ini. Mirip dengan pendahulu-pendahulu mereka yang sudah jadi legenda - De Indier (1913), Hindia Poetra (1923), Harian KAMI (1966), mingguan Mahasiswa Indonesia (1966) - kebanyakan 'kebangkitan' pers mahasiswa akhir-akhir ini dipicu oleh rasa kecewa terhadap pemberitaan pers umum.

Dengar misalnya pendapat Melanie Wahyu W, koordinator buletin Gugat - edisi khusus (terbit dua atau tiga kali sepekan) dari majalah Balairung asal Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. "Gugat muncul untuk menampung ketidakpuasan para aktivis mahasiswa tentang pemuatan media massa umum (mengenai aksi menuntut reformasi) yang dinilai sangat singkat atau kecil porsinya." Atau pandangan Bhayu M, Pemimpin Redaksi Bergerak! dari UI: "Kami ingin memberikan informasi mengenai apa yang sesungguhnya terjadi di kampus-kampus, apa yang menjadi tuntutan mahasiswa mengenai reformasi, dan apa yang bisa dibicarakan bersama untuk bangsa ini." Yang mirip juga disuarakan oleh Fadilasari, Pemimpin Redaksi Teknokra dari Universitas Lampung (Unila): "Upaya kami adalah melaporkan berbagai kejadian secara nyata, yang tidak dilaporkan secara jelas oleh media massa umum. Kalau koran umum di luar kampus tidak berani mengungkapkan kenyataan sebenarnya, koran kampus mengupas secara detail kejadiannya."

Idealis memang. Dan itu muncul karena selama ini para mahasiswa merasa tidak didengar, tidak diperhitungkan, dan bahkan tidak dipercaya. "Teknokra pernah mengalaminya," ungkap Andriansyah, Pemimpin Umum majalah itu. "Saat mahasiswa menyandera empat perwira polisi dalam "Insiden 19 Maret" (lihat Kompas, 20/3/1998-Red) di Unila, media massa umum memang memberitakannya. Namun ketika berita itu disangkal oleh pejabat tinggi militer, itu pun dimuat oleh banyak media massa umum. Ini aneh. Kami dari Teknokra melihat sendiri fakta (penyanderaan) itu di depan mata. Untuk menepis ketidakpercayaan itu kami lalu memuat seluruh "Insiden 19 Maret" tersebut secara lugas pada edisi Maret dan April," tambahnya.

Ternyata, kegigihan untuk memberitakan fakta apa adanya telah menjadi ciri kerja para aktivis pers kampus di zaman "pergolakan" menuntut reformasi ini. Ini ditunjukkan dengan mengerahkan dan menyebarkan puluhan reporter - tanpa dibayar -, mengorek kocek pribadi kiriman orangtua atau hasil kerja sambilan, dan mencari acuan ilmiah dari buku maupun dari para pakar di lingkungan universitas mereka masing-masing. Sudah biasa bahwa para aktivis pers mahasiswa itu kini banyak kerja lembur. Beruntung bahwa deadline tidak harus dipahami melulu dari sisi hitungan jam. Keterbatasan kemerdekaan pers umum dalam mengungkap fakta-apa-adanya ternyata merupakan keunggulan momentum bagi kalangan pers mahasiswa. Profil harian Bergerak! dari Universitas Indonesia mungkin bisa merupakan gambaran dari 'warna baru' pers kampus saat ini.

***

SAMPAI 10 Maret 1998 lalu kampus UI di Depok, Jawa Barat, 'hanya' memiliki Majalah Berita Mahasiswa Suara Mahasiswa Universitas Indonesia. Terbitnya dua bulan sekali, 66 halaman, kertasnya bagus, punya izin terbit dari SK Rektor, pengurusnya OK - Pelindung: Rektor, Penasihat: Purek III, dan Penanggung jawab: Ketua Senat Mahasiswa -, punya nomor rekening di Lippo Bank, dan isinya cukup beragam: dari serius sampai santai.

"Namun, ketika banyak aksi mahasiswa marak menjelang Sidang Umum MPR, Suara Mahasiswa tampak sulit berbuat sesuatu," begitu ungkap Achmad Nurhoeri, Ketua Bidang Pelatihan, Pengkajian dan Pengembangan Organisasi majalah itu pekan lalu. "Kami merasa bahwa ada gap informasi antara mereka yang aktif dalam aksi-aksi mahasiswa dan mereka yang tidak. Bersama para alumni pers kampus, redaksi mulai mendiskusikan bentuk media baru guna menginformasikan dan menyebarkan kesadaran politik di kalangan mahasiswa. Muncullah gagasan menerbitkan sebuah harian sederhana, sebagai "tukang pos" penyadaran. Tanggal 10 Maret 1998 akhirnya terbit edisi perdana harian Bergerak!. Terbit Senin sampai dengan Jumat dengan empat halaman dan masih gratis!," tutur Nurhoeri yang kini menjadi Pemimpin Umum harian itu.

Pada awalnya bahan berita sangat banyak. Demonstrasi, sembilan bahan pokok, kabinet baru, krisis moneter, dan kinerja DPR. Corak beritanya nyaris monoton bergeliat persis seperti huruf "g" (dari Bergerak!), yang 'digambar' macam sebuah embrio. Munculnya berbagai tips mengenai unjuk rasa maupun perlindungan hukum sedikit banyak membuat harian itu punya fungsi praktis. Kemudian, dalam gerak cepat, Editorial, yang ditulis oleh sebuah tim, berhasil membuat harian itu punya bobot pencerahan. Banyak pandangan tokoh-tokoh dunia-dari Emile Zola, Martin Luther King Jr, Bung Karno, Kardinal James Gibbons, Abraham Lincoln, Chang Yu, Napoleon, Theodore Roosevelt, sampai Dalai Lama - dijadikan acuan bahasan dalam Editorial.

Ambil contoh misalnya, Editorial edisi 12,5 (sic!)/Kamis, 26 Maret 1998, yang dimulai dengan kata-kata ini: "...Anakku, simpan segala sesuatu yang kau tahu. Jangan ceritakan deritaku dan sakitku kepada rakyat, biarkan aku yang menjadi korban asal Indonesia tetap bersatu...". Pesan Bung Karno pada Megawati menjelang akhir hayatnya itu dipakai untuk menuturkan "semangat rela berkorban demi kepentingan yang lebih besar: bangsanya". Atau, simak kata-kata Chang Yu: When one treats people with benevolence, justice, and righteousness, and reposes confidence in them, the followers will be united in mind and all will happy to serve their leader, yang digunakan untuk mengungkap dambaan munculnya seorang pemimpin yang kuat, adil, dan mampu melihat permasalahan secara menyeluruh. (Editorial Bergerak! edisi 21/Rabu, 8 April 1998).

"Pencerahan diperlukan agar kami tetap menjadi pers yang obyektif, yang bisa menjadi referensi bagi gerakan mahasiswa. Kami menekankan rasionalitas. Dukungan terhadap reformasi pun harus didasarkan pada pengamatan fakta secara rasional," begitu ungkap Achmad Nurhoeri.

Tentu saja, kendala untuk tidak subyektif cukup besar. Dengan 30 reporter yang sangat beragam - 'anak baru' sampai yang senior - Bergerak! memang 'dipaksa' untuk selalu merefleksi pemberitaan mereka. Untunglah mereka memiliki banyak alumni pers mahasiswa - 'orang-orang' majalah media cetak umum - yang membantu. Para pakar di lingkungan UI sendiri banyak pula yang memberi masukan ilmiah. "Unjuk rasa dan tugas peliputannya sendiri juga menjadi ajang pendidikan dan peningkatan kemampuan jurnalistik," tutur Achmad. "Dalam kaitan ini ongkos ganti cetak (kini Rp 600) dari para mahasiswa UI dan orang luar merupakan dukungan tersendiri dalam proses mengungkap fakta apa adanya secara rasional. Di mana-mana rasionalitas memang masih selalu jadi harga diri mahasiswa." tambahnya.

***

AGAK dini memang untuk membandingkan terbitan pers mahasiswa saat ini - mulai dari Teknokra (Unila), Bergerak! (UI), Ganesha (ITB), Manunggal (Universitas Diponegoro), Balairung dan Gugat (UGM), Suara Airlangga (Unair) dan Arrisalah (IAIN Sunan Ampel), sampai Identitas (Universitas Hasanuddin Ujungpandang) - dengan pendahulu mereka yang besar seperti Harian KAMI (Jakarta) atau Mahasiswa Indonesia Edisi Jawa Barat (Bandung). Dua pendahulu itu sungguh memiliki peran besar dalam memberi corak dan sistem politik dan gerakan awal Orde Baru. Peneliti macam F Raillon (Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia, LP3ES, Jakarta: 1985) misalnya, bahkan menilai, untuk memahami gerakan Angkatan '66 orang harus membaca Mahasiswa Indonesia. Editorial mingguan itu (No 53 Juni 1967), yang berjudul Di sini Kami berdiri dan Kami Suarakan Amarah Suci sebuah Angkatan bisa disebut sebagai cerminan cita-cita, ambisi, dan falsafah gerakan Angkatan '66.

Tapi lepas dari perbandingan di atas, harus diakui bahwa saat ini pers mahasiswa di hampir semua perguruan tinggi - negeri maupun swasta - sedang mengalami geliat baru. Tema-tama tajuk mereka: "Kami Adalah Pemilik Sah Republik Ini" (Identitas); "Tak Sekadar Semangat" (Manunggal); atau "Perjuangan Menuju Reformasi" (Ganesha), sekurang-kurangnya menunjukkan keterlibatan mendalam terhadap keadaan negeri mereka. "Tidak pernah terjadi sebelumnya bahwa berita-berita mengenai wisuda, dies natalis, atau pidato rektor digusur untuk liputan krisis ekonomi dan usulan reformasi," begitu ungkap Dr Aloysius Agus Nugroho, Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Unika Atma Jaya Jakarta, Kamis lalu. "Sikap kritis terhadap keadaan ini ternyata mampu menjadi bahan refleksi, umpan balik, dan sekaligus alat kontrol terhadap kekuasaan," tambah mantan pengasuh Warta Atma Jaya ini.

Bagi Nugroho, pers mahasiswa bisa menjadi tempat untuk mengasah sikap kritis tersebut. Untuk itu dinamikanya harus selalu dipelihara. "Kalau perlu diciptakan media alternatif di samping media (resmi) mahasiswa," katanya. Di UI dan UGM hal itu memang sudah terbukti. Harian Bergerak! dan Gugat menjadi 'jantung baru' - karena frekuensi terbit yang lebih banyak - bagi Suara Mahasiswa dan Balairung. Persoalannya kini, apakah geliat pers mahasiswa ini tetap akan memiliki stamina kuat? Sampai saat ini, situasi krisis ekonomi dan banyaknya tuntutan reformasi memang menjadi kerangka sosial dan lingkungan kondusif bagi geliat tersebut. Bagaimana kalau krisis sudah teratasi dan tuntutan reformasi telah diambil oleh DPR/DPRD misalnya? Apakah pers mahasiswa akan berhenti bergeliat? "Reformasi yang kami tuntut bukan reformasi parsial, tapi reformasi total. Dan untuk sebuah totalitas tak ada kata berhenti," begitu ungkap Achmad Nurhoeri. Itu juga harapan kaum cendekiawan yang independen. (ast/cal/dth/ody/lam/yul/pp/top/win/wit)

Surat Pembaca, Kompas, Sabtu, 9 Mei 1998
Penjelasan "Gugat"

Terima kasih kepada Kompas yang telah menunjukkan kepedulian terhadap pers mahasiswa, khususnya mengenai pemuatan terbitan kami Gugat (3/5). Sehubungan dengan pemuatan mengenai Gugat, kami merasa perlu untuk sedikit meluruskan.

Pada tulisan itu disebutkan, bahwa Gugat adalah terbitan khusus dari majalah Balairung Universitas Gadjah Mada (UGM). Yang benar, bahwa Gugat adalah terbitan khusus dari Badan Penerbit Pers Mahasiswa (BPPM) UGM. BPPM tidak hanya menerbitkan majalah Balairung, tetapi juga surat kabar Bulaksumur. Gugat dikelola secara bersama.

Sebagai media (khusus) yang diterbitkan oleh lembaga resmi BPPM UGM, Gugat yang coba mencari ruang/ceruk yang belum disentuh oleh media umum dimaksudkan sebagai media yang terbuka, bukan media gelap. Badan Penerbit Pers Mahasiswa UGM, Melani Wahyu W Koord "Gugat"